Rabu, 25 November 2015

Senbazuru Monogatari

Senbazuru (千羽鶴) merupakan kumpulan origami berbentuk tsuru () atau bangau dalam  Bahasa Indonesia, yang dirangkai bersama dengan benang. Dalam cerita yang berkembang di Jepang dipercaya bahwa siapapun yang melipat kertas-kertas origami menjadi seribu bangau maka satu permohonannya akan dikabulkan. Hal ini diilatarbelakangi oleh kepercayaan rakyat Jepang bahwa bangau adalah salah satu makhluk suci yang konon dapat hidup selama ribuan tahun. Di Jepang, sudah biasa diceritakan bahwa melipat seribu bangau kertas dapat mengabulkan permohonan seseorang, sehingga sering diberikan sebagai hadiah spesial bagi keluarga dan teman.
senbazuru
Kisah berwawal tentang Sadako Sasaki (佐々木 禎子), seorang gadis Jepang yang masih berumur dua tahun ketika bom atom dijatuhkan tanggal 6 Agustus 1945, di dekat rumahnya, sekitar jembatan Misasa, Hiroshima, Jepang. Bulan November 1954, leher dan bagian belakang telinga Sadako membengkak. Bulan Januari 1955, bercak ungu bermunculan di kedua kakinya dan ia didiagnosa menderita leukemia, sementara sang ibu berkata bahwa penyakit itu merupakan akibat dari bom atom.Akhirnya ia mulai dirawat di rumah sakit pada tanggal 21 Februari 1955 dan dinyatakan dapat hidup paling lama satu tahun. Menurut buku Sadako and the Thousand Paper Cranes yang menceritakan tentang kisah hidup Sadako, Tanggal 3 Agustus 1955, sahabat Sadako, Chizuko Hamamoto datang menjenguknya ke rumah sakit. Chizuko memotong secarik kertas emas agar berbentuk persegi dan melipatnya menjadi burung bangau kertas, berdasarkan suatu cerita kuno dari Jepang bahwa siapapun yang melipat seribu bangau kertas maka permohonannya akan dikabulkan oleh para dewa. Menurut versi terkenal dari kisah tersebut, Sadako merasa tak mampu mencapai jumlah 1.000, sehingga ia hanya mampu melipat sampai 644 sebelum meninggal, dan teman-temannya melanjutkan usahanya sampai genap berjumlah 1.000 lalu mereka menguburkan semuanya bersama Sadako. Sementara menurut pegawai Museum Monumen Perdamaian di Hiroshima, akhir bulan Agustus 1955, Sadako berhasil mewujudkan cita-citanya dan melipat bangau kertas bahkan lebih dari seribu ekor.
buku yang mengisahkan kisah sadako
Selama dirawat di rumah sakit, kondisinya semakin memburuk. Sekitar pertengahan Oktober kakinya membengkak dan berubah warna menjadi ungu. Kata terakhir yang diucapkan Sadako ialah ‘rasanya enak’ yang ia ucapkan setelah ia memakan ochazuke (nasi campur teh) yang diberikan keluarganya. Sadako meninggal di pagi hari tanggal 25 Oktober 1955 pada usia 12 tahun.
Setelah kematiannya, para teman sekelas dan sahabat Sadako menerbitkan kumpulan surat untuk menggalang dana demi pembangunan suatu monumen untuk mengenangnya dan seluruh anak yang meninggal dunia karena dampak bom atom. Tahun 1958, sebuah patung Sadako yang memegang burung bangau emas dipajang di Taman Monumen Perdamaian Hiroshima, yang juga disebut Genbaku Dome. Di kaki patung ada plakat yang berbunyi sebagai berikut:

これはぼくらの叫びです これは私たちの祈りです 世界に平和をきずくための
(Kore wa bokura no sakebi desu. Kore wa watashitachi no inori desu. Sekai ni heiwa o kizuku tame no.)
“Ini adalah seruan kami. Ini adalah doa kami. Untuk membangun kedamaian di dunia.”

その後、鳥の紙の魂、飛行、ねじれや追い越し、空間、距離と時間の次元に、彼らの要求を許可する…
とマニフェストに、同じの大きな夢と希望を持つ別の人間の子を探します!
(Sonogo, tori no kami no tamashī, hikō, nejire ya oikoshi, kūkan, kyori to jikan no jigen ni, karera no yōkyū o kyoka suru… To manifesuto ni, onaji no ōkina yumetokibō o motsu betsu no ningen no ko o sagashimasu!)
“Jiwa-jiwa burung kertas, kemudian terbang, meliuk dan menyalip, ke dalam dimensi ruang, jarak dan waktu, mengabulkan permintaan mereka… dan mencari anak manusia lain dengan mimpi serta harapan besar yang sama, untuk di wujudkan!”

Patung Sadako
Sadako telah menjadi simbol dampak perang nuklir. Sadako juga merupakan pahlawan wanita bagi para gadis di Jepang. Kisahnya dituturkan di beberapa sekolah di Jepang saat peringatan serangan bom atom di Hiroshima. Sebagai penghargaan atas dedikasi dan semangat perjuangan hidup Sadoko, rakyat Jepang memperingati tanggal 6 Agustus sebagai Hari Perdamaian. Pada hari perdamaian tersebut, biasanya akan ada siswa SD yang berkunjung ke Monumen Perdamaian dan mempersembahkan origami yang mereka buat di depan patung sadako. Di masyarakat Jepang, sadako dianggap sebagai salah satu pembawa pesan harapan yang dikagumi dan banyak diikuti jejak nya oleh orang-orang yang ingin memenuhi harapannya. Keteguhan, kerja keras, dan harapan yang tak pernah mati dalam diri sadako menginspirasi banyak orang.

Sadako berusia 6 tahun

Semoga saja kisah sadako ini juga menginspirasi kita untuk terus berusaha dan pantang menyerah meraih mimpi dan cita-cita kita ya~ :)





Kamis, 16 April 2015

Salam Dalam Bahasa Jepang

Ohayou Gozaimasu!!!

Teman-teman yang menyukai anime atau dorama Jepang pasti sering mendengar ucapan tadi kan? Yap! benar sekali. Kata itu berarti 'selamat pagi' dalam bahasa Indonesia. Di Jepang sendiri salam atau あいさつ (aisatsu) adalah hal yang sangat penting dalam pergaulan di lingkungan tempat tinggal. 

Di Jepang sendiri ada banyak kata yang bisa kita gunakan sebagai salam sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Nah kira-kira kata apa saja sih yang biasa digunakan sebagai salam dalam Bahasa Jepang? dan dalam situasi apa saja sih, kata itu digunakan? Berikut sedikit penjelasannya