Senbazuru (千羽鶴) merupakan kumpulan origami
berbentuk tsuru (鶴) atau bangau dalam Bahasa Indonesia, yang dirangkai bersama dengan benang. Dalam cerita yang
berkembang di Jepang dipercaya bahwa siapapun yang melipat kertas-kertas
origami menjadi seribu bangau maka satu permohonannya akan dikabulkan. Hal ini
diilatarbelakangi oleh kepercayaan rakyat Jepang bahwa bangau adalah salah satu
makhluk suci yang konon dapat hidup selama ribuan tahun. Di Jepang, sudah biasa
diceritakan bahwa melipat seribu bangau kertas dapat mengabulkan permohonan
seseorang, sehingga sering diberikan sebagai hadiah spesial bagi keluarga dan
teman.
![]() |
| senbazuru |
Kisah
berwawal tentang Sadako Sasaki (佐々木
禎子), seorang gadis Jepang
yang masih berumur dua tahun ketika bom atom dijatuhkan tanggal 6 Agustus 1945,
di dekat rumahnya, sekitar jembatan Misasa, Hiroshima, Jepang. Bulan November 1954,
leher dan bagian belakang telinga Sadako membengkak. Bulan Januari 1955, bercak
ungu bermunculan di kedua kakinya dan ia didiagnosa menderita leukemia,
sementara sang ibu berkata bahwa penyakit itu merupakan akibat dari bom
atom.Akhirnya ia mulai dirawat di rumah sakit pada tanggal 21 Februari 1955 dan
dinyatakan dapat hidup paling lama satu tahun. Menurut buku Sadako and the Thousand Paper Cranes
yang menceritakan tentang kisah hidup Sadako, Tanggal 3 Agustus 1955, sahabat
Sadako, Chizuko Hamamoto datang menjenguknya ke rumah sakit. Chizuko memotong
secarik kertas emas agar berbentuk persegi dan melipatnya menjadi burung bangau
kertas, berdasarkan suatu cerita kuno dari Jepang bahwa siapapun yang melipat
seribu bangau kertas maka permohonannya akan dikabulkan oleh para dewa. Menurut
versi terkenal dari kisah tersebut, Sadako merasa tak mampu mencapai jumlah
1.000, sehingga ia hanya mampu melipat sampai 644 sebelum meninggal, dan
teman-temannya melanjutkan usahanya sampai genap berjumlah 1.000 lalu mereka
menguburkan semuanya bersama Sadako. Sementara menurut pegawai Museum Monumen
Perdamaian di Hiroshima, akhir bulan Agustus 1955, Sadako berhasil mewujudkan
cita-citanya dan melipat bangau kertas bahkan lebih dari seribu ekor.
![]() |
| buku yang mengisahkan kisah sadako |
Selama dirawat di rumah sakit, kondisinya semakin
memburuk. Sekitar pertengahan Oktober kakinya membengkak dan berubah warna
menjadi ungu. Kata terakhir yang diucapkan Sadako ialah ‘rasanya enak’ yang ia
ucapkan setelah ia memakan ochazuke (nasi campur teh) yang diberikan
keluarganya. Sadako meninggal di pagi hari tanggal 25 Oktober 1955 pada usia 12
tahun.
Setelah kematiannya, para teman sekelas dan sahabat
Sadako menerbitkan kumpulan surat untuk menggalang dana demi pembangunan suatu
monumen untuk mengenangnya dan seluruh anak yang meninggal dunia karena dampak
bom atom. Tahun 1958, sebuah patung Sadako yang memegang burung bangau emas
dipajang di Taman Monumen Perdamaian Hiroshima, yang juga disebut Genbaku Dome.
Di kaki patung ada plakat yang berbunyi sebagai berikut:
これはぼくらの叫びです これは私たちの祈りです 世界に平和をきずくための
(Kore
wa bokura no sakebi desu. Kore wa watashitachi no inori desu. Sekai ni heiwa o
kizuku tame no.)
“Ini
adalah seruan kami. Ini adalah doa kami. Untuk membangun kedamaian di dunia.”
その後、鳥の紙の魂、飛行、ねじれや追い越し、空間、距離と時間の次元に、彼らの要求を許可する…
とマニフェストに、同じの大きな夢と希望を持つ別の人間の子を探します!
(Sonogo,
tori no kami no tamashī, hikō, nejire ya oikoshi, kūkan, kyori to jikan no
jigen ni, karera no yōkyū o kyoka suru… To manifesuto ni, onaji no ōkina
yumetokibō o motsu betsu no ningen no ko o sagashimasu!)
“Jiwa-jiwa
burung kertas, kemudian terbang, meliuk dan menyalip, ke dalam dimensi ruang,
jarak dan waktu, mengabulkan permintaan mereka… dan mencari anak manusia lain
dengan mimpi serta harapan besar yang sama, untuk di wujudkan!”
![]() |
| Patung Sadako |
Sadako telah menjadi simbol dampak perang nuklir.
Sadako juga merupakan pahlawan wanita bagi para gadis di Jepang. Kisahnya
dituturkan di beberapa sekolah di Jepang saat peringatan serangan bom atom di
Hiroshima. Sebagai penghargaan atas dedikasi dan semangat perjuangan hidup
Sadoko, rakyat Jepang memperingati tanggal 6 Agustus sebagai Hari Perdamaian. Pada
hari perdamaian tersebut, biasanya akan ada siswa SD yang berkunjung ke Monumen
Perdamaian dan mempersembahkan origami yang mereka buat di depan patung sadako.
Di masyarakat Jepang, sadako dianggap sebagai salah satu pembawa pesan harapan
yang dikagumi dan banyak diikuti jejak nya oleh orang-orang yang ingin memenuhi
harapannya. Keteguhan, kerja keras, dan harapan yang tak pernah mati dalam diri
sadako menginspirasi banyak orang.
![]() |
| Sadako berusia 6 tahun |
Semoga saja kisah sadako ini juga menginspirasi kita untuk terus berusaha dan pantang menyerah meraih mimpi dan cita-cita kita ya~ :)



